Indahnya Taman Nasional Lorentz di Bagian Timur Indonesia

Konten [Tampil]
Taman Nasional Lorentz
Berbicara mengenai taman nasional, di papua ada namanya Taman nasional Lorentz yang memiliki kekayaan alam sangat banyak dan sangat endemic

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 2,4 juta Ha; Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara.Taman nasional inu terletak di daerah papua.

Taman nasional ini terletak di papua dengan wilayah yang meliputi lima kabupaten, yaitu di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten asmat,yahukimo, sebelah barat dengan kabupaten mimika, sebelah utara berbatasan dengan kabupaten jayawijaya dan puncak jaya. karena memiliki lahan yang sangat luas maka taman nasional Lorentz di papua ini dianggap sebagai salah satu taman nasional terbesar di asia tenggara.

Bahkan Balai Taman Nasional Lorentz merupakan salah satu perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Di Kawasan ini  merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis.

Taman nasional Lorentz memiliki keunikan dan keindahan yang tidak bisa di dapatkan di tempat lain, selain itu taman nasional yang sangat luas ini terdapat beberapa flora dan fauna di dalamnya, banyak sekali hewan – hewan langka yang telah dilindungi pada taman nasional lorentz. Merupakan salah satu taman nasional terbesar di papua, bahkan asia tenggara maka banyak sekali berbagai hal dan keindahan alamnya di taman nasional lorentz ini. 

Luas Taman Nasional Lorentz

Taman nasional Lorentz memiliki luas wilayah yang sesuai dengan keputusan menteri kehutanan pada tahun 1997 sebagai berikut : “Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 154/Kpts-II/1997 Tanggal 19 Maret 1997 dengan Luas : ± 2.505.600 Ha”. Cukup luas  Bukan, taman nasional yang memiliki luas sekitar 2, 4 sampai 2,5 juta hektar ini memiliki berbagai macam ke aneka ragaman hayati.

Karena taman nasional ini begitu luas sampai Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN sebagai kawasan dan taman nasional yang memiliki ke aneka ragaman hayati dan memiliki berbagai macam keindahan yang luar biasa.

Sejarah taman Nasional Lorentz

Adapun sejarah singkat taman nasional Lorentz adalah sebagai salah satu taman nasional yang sudah di akui dunia, taman nasional ini pun memiliki sejarah yang bisa kita pelajari sebagai salah satu acuan untuk menambah pengetahuan kita mengenai taman nasional lorentz ini.

Pada saat Tahun 1916, Taman nasional lorentz ditetapkan sebagai Monumen Alam Lorentz pada masa pemerintahan Belanda lalu pada Tahun 1978, oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan luas 2.150.000 Ha.selanjutnya pada Tahun 1997, ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai Taman Nasional Lorentz dengan luas 2.450.000 hektar, hingga sekarang taman nasional ini masih asri dan memberikan keindahan yang luar biasa.

Memiliki Gletser di Puncak Jaya

gunung jaya
Taman Nasional Lorentz merupakan salah satu taman nasional yang memiliki salah satu di antara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Misalnya adanya glister di atas beberapa puncak gunung di area taman nasional Lorentz yang  Letaknya membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl).

Seperti gunung jaya, yang memiliki puncak di atas 5000 dpl, sehingga memiliki salju di atas puncak gunung tersebut, sehingga semakin menambah keindahan kawasan hutang lindung tersebut.
Sungai yang menghilang di Lembah Baliem.

Selain kawasan ini  memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat juga beberapa kekhasan dan keunikan, seperti gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang sampai beberapa kilometer masuk  ke dalam tanah di Lembah Baliem. Akan menambah kecintaan kamu kepada alam, karena keindahan taman nasional ini tiada tara, seperti memberikan kejutan-kejutan manis di setiap daerahnya.

Flora di Taman Nasional Lorentz

Karena daerah yang sangat luas maka taman nasional Lorentz memiliki flora yang sangat beragam,berikut ulasannya:

Zona Dataran Rendah

Sub-zona pantai (Sistem lahan Putting, 0 – 4 m) : Vegetasinya berkisar dari tanaman apung dan tanaman bawah air, hingga rumput rawa, alang-alang, sagu, palem, pandan dan hutan rawa serta hutan bakau.

Sub-zona rawa pasang surut (0 – 1 m): Rawa hutan bakau dan nipah yang dipengaruhi pasang surut, Komunitas bakau juga ditemukan di pedalaman sepanjang sungai, jenis Nypa fruticans tumbuh hingga ke pedalaman.

Sub-zona daerah meander (0 – 25 m) : Hutan klimaks campuran
Sub-zona rara gambut (3 – 50 m) :Pandan,Carallia, Syzygium dan Campnosperma, Terminalia, Alstonia, Barningtonia, Metroxylon sagu, Diospyros, Pandanis dan Myristica di daerah rawa-rawa.

Sub-zona kipas aluvial (50 – 150 m) :Annonaceae, yaitu Apocynaceae. Burseraceae, Dipterocarpaceae, Ebenaceae, Vagaceae, Leguminoceae, Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae dan Sterculiaceae. Spesies pohon yang khas di tingkat atas adalah Pometia, Alstonia, Ficus dan Terminalia, sedangkan pohon tingkat bawah adalah Garcinia, Diospiros, Myristica, Maniltoa dan Microcos.

Sub-zona lembah aluvial (25 – 100 m) : Vegetasi ini meliputi jenis vegetasi yang berada sejajar dengan sungai sepanjang garis gradien dari keadaan basah hingga ke keadaan kering.
Sub-zona ketinggian teras terpotong (100 – 650m) : Tumbuhan sarang semut/sejenis pakis (Myrmecodia dan Lecanopteris mirabilis), tumbuhan kantong karnivora (Nephentes spp)., Casuarina, Dacrydium, Podocarpus, Tristania, Eugenia, Syzygium. Dacrydium, Podocarpus, Tristania, Eugenia dan Syzygium Pandan dan Freycinetia spp.

Zona-pegunungan (600 – 2300 m) :

Sub-zona pegunungan bawah (699 – 1.500 m) : Pakis pohon lebih banyak ditemukan di semak dan lapisan pohon bawah, serta perdu seperti Elatostema, Begonia dan sejenis Impatiens berbunga jingga merah jambu yang mencolok di lapisan bawah. Hutan ini juga kaya akan spesies dan pohon-pohon Castanopsis dan Lithocarpus dan Sloanea, serta Cryptocarya.

Sub-zona pegunungan tengah : Hutan pegunungan tengah campuran, hutan Captanopsis, hutan Nothofagus, hutan Coniferous, hutan rawa pegunungan tengah, rawa rumput sedge, rawa rumput Phragmites pegunungan tengah, padang rumput Miscanthus pegunungan tengah dan rangkaian vegetasi bekas ladang.

Pohon-pohon tudung yang banyak tumbuh berasal dari keluarga Fagaceae, Lauraceae, Cunioneaceae, Elaeocarpaceae, dan Myrtaceae. Tumbuhan bawah pohon meliputi Garcinia, Astronia, Polyosomo, Symplocos, Sericola, Drymis, Prunus, Pittosporum dan Araliaceae. Hutan Coniferous terdapat pada ketinggian diatas 2.400 m. Beberapa genusnya antara lain Podocarpus, Dacrycarpus, Papuacedrus, Phyllocladus dan Araucaria.

Zona Alpin

Zona sub-alpin Zona sub-alpin ditandai dengan adanya hutan-hutan sub-alpin, yang bercampur dengan vegetasi jenis lainnya. Hutan sub-alpin-bawah miskin akan flora. Hutan di zona ini memiliki tudung yang tertutup, dengan ketinggian mencapai 10 hingga 15 m. Beberapa jenis yang dominan antara lain Rapanea sp., Dacrycarpus compactus dan Papuacedrus papuas.

Zona alpin Zona alpin berada pada ketinggian antara 4.170 dan 458.5 m dpl. Vegetasi alpin meliputi semua komunitas yang tumbuh di atas batas semak tinggi. Vegetasi ini berbentuk padang rumput, kerangas dan tundra.

Padang rumput pendek (Grasberg 4.200 m) : Rumput-rumputan yang dominan adalah Agrostis reinwardtii, Deyeuxia brassi, Anthoxanthum angustum, Monostachya acrobeloides, dan Poa callosa. Lantainya diliputi oleh briofita dan licea terutama Racomitrium crispulum, Frullania reimersii, Cetraria spp. dan Thamnolia vermicularis. Semak yang paling banyak ditemukan adalah Styphelia suaveolens, Tetramolopium ericoides, dan Rhododendron coroides. 

Padang rumput tussock alpin : Deschamsia klosii membentuk padang rumput tussock yang padat di tanah yang terdainase dengan baik dari ketinggian 4.000 hingga 4.500 m di gunung Jaya. Semak seperti Styphelia suaveolens berada di dalam tussock, bersama dengan berbagai jenis perdu, terutama Papuzilla laeteviridis dan the minute fern Cystopteris sp. Padang rumput tussock alpin yang padat dapat juga merupakan komunitas klimaks kawasan alpin.

Tetramolopium klossi – Kerangas Rhacomitrium : Tetramolopium klossi tumbuh sebagai semak rendah yang menyebar hingga 30 cm, berakar hampir di hamparan lumut Rhacomitrium crispulum, dan Distichum capillaceum, Styphelia siaveolens dan Vaccinium cf. coelorum dengan frekuensi yang naik di daerah morena tua.

Semak kerangas kerdil : Komunitas ini menempati puncak punggung gunung dan lereng di ketinggian lebih dari 4.200 m serta di luar kawasan yang dipengaruhi pergerakan es neoglasial. Komunitas ini terdiri dari hamparan semak hingga setebal 20 cm, yang umumnya terdiri dari Styphelia suaveolens, serta Tetramolopium klosii, Tertramopolium piloso villosum, dan kadang kala Coprosma brassii, serta semak Senecio sp.Deschampsia klossii dan Monostachya oreo bolides menempati celah-celah pada kerangas beserta hamparan Geranium, Epilobium detznerianum dan Parahebe wanderwateri yang tersebar dimana-mana.

Tundra alpin kering : Morena yang termuda pada ketinggian 4.230 hingga 4.600 m telah tersingkap oleh adanya lelehan es yang terus-menerus selama 30 tahun dan ditumbuhi lumut serta beberapa spesies herba yang mampu tumbuh di tanah mineral alkali.

Tundra alpin basah : Lembah kuning memiliki lantai yang sangat datar dilewati oleh banyak morena rendah. Di belakang morena-morena ini dan di beberapa cekungan cadas, hamparan lumut yang membentang mendukung beberapa spesies herba untuk membentuk suatu komunitas, yang menyerupai tundra lapin basah Gunung Wilhelm yang dideskripsikan oleh Wade dan Mac Vean (1969). 

Lumut utama, Breutelia aristivolia, tumbuh pada danau kapur yang tergenang secara periodik dari morena dasar sekitar. Hamparan kecil Gnaphalium breviscapum, Geranium potentiloides var. alpestre dan Ranunculus spp. tumbuh di sana. Rumput Sedges berkisar dari jarang hingga banyak dengan tuft-tuft terbalut Deschampsia klossii yang ada di sana-sini. Komunitas ini muncul pada ketinggian yang relatif rendah, 4.500 m, dan dikelilingi oleh kerangas Tetramolopium.

Fauna di Taman Nasional Lorentz

Adapun Fauna di taman nasional Lorentz adalah sebagai Berikut;
Mamalia; 

Balai Taman Nasional Lorentz telah dinilai oleh para ahli imunologi terkemuka sebagai daerah yang paling penting bagi varietas mamalia di Melanesia. Dari 42 jenis (spesies) yang tercatat selama survei, 10 atau hampir 25 persen, merupakan catatan baru untuk Irian Jaya, sedangkan 2 jenis merupakan spesies baru. Jenis satwa baru dan langka, yaitu kanguru pohon (Dendrolagus mbaiso), Dendrolagus dorianus , jenis tikus (genus Stenomys), dua spesies tikus raksasa : Mallomys aruensis dan M. Istapantap . Jenis kelelawar ( Syconycteris hobbit), kelelawar jenis (Paranyctimene raptor), Pipistrellus collinus, dan Tadarida kuboriensis.

Spesies lainnya, yaitu landak Irian (Zaglossus bruijnii), tikus (Coccymys rummleri), tikus air (Hydromys habbema), possum kerdil (Cercatus caudatus), tikus (Mellomys mollis), walabi coklat (Docropsis muelleri), kuskus abu (Phalanger gymnotis), kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan posum bergaris (Dactylopsila trivirgata).Sejumlah 64 spesies mamalia sejauh ini telah diidentifikasikan dan diperkirakan ada sebanyak 90 hingga 100 spesies mamalia yang mungkin hidup di Taman Nasional Lorentz.

Burung

Balai Taman Nasional Lorentz meliputi dua Daerah Burung Endemik (DBE) dengan total 45 burung sebaran terbatas dan 9 spesies burung endemik yang dibatasi di barisan Pegunungan Sudirman dan DBE dataran rendah Irian bagian selatan. Archboldia papuensis , cendrawasih elok (Macgregoria pulchra), ifrita topi-biru (Ifrita kowaldi), pipit ekor-api (Oreostruthus fuliginosus), sesap madu (Eurostopodus archboldi), walet sapi maupun walet gunung (Collocalia esculenta dan C. hirundinacea), mambruk selatan (Goura scheepmakeri), nuri kabare (Psittrichas fulgidus), itik noso (Anas waigiuensis), dan robin salju (Petroica archboldi).

Amphibi dan Reptil; Jenis-jenis yang dapat dijumpai di kawasan ini Lobulus sp., ular sanca boelan (Morelia boelini), kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), dan buaya (Crocodylus porosus dan C. novaeguineae)

Ikan

Diperkirakan lebih dari 1.000 spesies ikan terdapat di Taman nasional Lorentz, diantaranya yaitu Ikan kaloso atau lebih populer dengan sebutan arwana (Scleropages jardini).
Kawasan hutan Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan. Namun demikian, puncak salju abadi merupakan salah satu potensi sebagai wisata minat khusus. Puncak ini setiap tahun selalu menjadi ajang uji nyali dan ketanggungan bagi para pendaki gunung.aman

Disamping keanekaragaman hayati sangat  banyak , taman nasional ini didukung oleh keanekaragaman budaya yang sangat  mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan di kawasan ini telah berumur kurang lebih 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. 

Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.karena banyak sekali suku suku yang asli masih berada di daerah ini, misalnya saja yang paling dikenal adalah adanya suku asmat di pedalaman papua.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon yang berada di dalam hutan. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.

Perpaduan ketiga hal tersebut di atas, yaitu kekayaan keanekaragaman hayati, gejala alam dan panorama alam, serta budaya masyarakat tradisionalnya yang demikian tinggi merupakan potensi pariwisata yang luar biasa. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dikembangkan di kawasan ini, diantaranya pertunjukan kehidupan liar, pendakian puncak jaya, dan atraksi budaya.

Cara pencapaian lokasi ke taman nasional lorentz


Secara umum Taman Nasional Lorentz dapat dicapai melalui beberapa kota, antara lain : Timika (Kab. Mimika), Nabire (Kab. Nabire), Enarotali (Kab. Paniae), Wamena (Kab. Jayawijaya), Meroke (Kab. Meroke), Mulia (Kab. Puncak Jaya). Semua kota-kota tersebur dapat dijangkau dengan transportasi udara dari Biak dan Jayapura dengan waktu tempuh antara 1 – 2 jam.

Itulah pembahasan mengenai taman nasional lorentz, semoga kalian bisa menjaga kelestarian budaya dan taman nasional ini dengan baik sehingga di indonesia akan dikenal dunia, bahkan dengan adanya taman nasional yang terbesar di asia tenggara membuat indonesia menjadi semakin kaya.

0 Response to "Indahnya Taman Nasional Lorentz di Bagian Timur Indonesia"

Post a Comment

Salam perkenalan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel