Sajak Puisi fragmen pertama

 fragmen pertama



Sarafina! Sarafina! Sang Puan Magis nan Berapi!
Sarafina! Sarafina! Tiada banding kemuliaannya
Sendiri ia menghadapi dunia, melepas kemunafikan
Sampai akhir dengan kekasihnya ia berani menyerukan
Sebuah ajakan melawan kekolotan dan masa kebodohan
Siapa, dan dari mana wanita ini datang membawa kebenaran?
Simak, dengarlah, supaya bisa kuceritakan, tentang Sang Puan!

Dia dikandung oleh ibunya, Hawari, sang wanita perawan
Namun tidak lagi. Sebagai perawan ia tak memiliki pilihan
Selain menikahi yang dijodohkan--seorang Adipati pemabuk
Yang menghamili dirinya. Maka larilah ia membawa beban

Dua per tiga malam, ia meninggalkan rumah terkantuk-kantuk
Merapal doa agar para pengawal suaminya tak terpelatuk
"Wahai Adipati Ata-Tuzk, membusuklah di sini!" kutuknya
Dengan beban di perut ia lari ke perbatasan membawa guluk

Hawari, terbaring lemas dan beratapkan gua tua
Ia yang selalu dilaknat sebagai pemuas kaum papa
Anjangsana dan renjana tak sudi memberi belas kasihan
Baginya mati jauh lebih layak daripada hidup dalam derita

Sang wanita hendak menjerit kala melihat bayi mungilnya
Yang keluar dengan susah-payah, 'tapi tak ada tangis darinya
Raganya mungil, netra azuranya penuh tatapan penasaran
Padanya sang wanita berkata, "Kau takkan berakhir lama."

Hendak dicekiknya bayinya, tetapi sang bayi menggeliat
Terperanjat, meski dicoba berulang kali, mesti kalah cepat
Rasa yang tak pernah ia rasakan datang di pintu Kematian
Begitu tirta nitranya menyuluri pipi berbalut debu pasir-liat

Helai rambut kusutnya diampelas sinar kering nirkehangatan
Undangnya, "Kemarilah, anakku. Reguklah kasih terakhirku."
Bayinya menatap polos, merayap menuju sumber ratapan
Di dalam gua tua, larik-larik arunika berangsur tersingkapkan

Doanya, "Semoga kala fajar tiba, bintangku masih bercahaya
Dan menaungi dalam sunyi, meski di ujung langit tiada pelita."
Sakitnya menjadi-jadi dan erangan napasnya tersengal-sengal 
Pedih dan perih ia abaikan, kali ini satu lullabi terakhir darinya

Hendak mengucap, bibirnya kering dan gersang, lidahnya terjegal
Oleh dahaga dan lapar. Hendak merapal satu doa, 'tapi tak hafal
Tirta netranya lolos dari penjagaannya, mukanya dipoles sendu
Tak peduli didengar atau tidak, sebelum ia dijemput oleh ajal

"Oh, anakku tersayang, sebuah janji t'lah hidup dalam dirimu
Kumasukkan kau dalam lingkaranku, bersama keluargaku
Semoga seorang musafir mulia menemukan dan bersedia
Merawatmu. Ingatlah, aku bersamamu sampai akhir waktu."

Diperkenankannya sang bayi menghisap puting susunya
Tak peduli dengan darah yang keluar dari hidungnya
Merataplah ia, "Hiduplah, anakku, hiduplah hari ini."
Maka matilah ia tanpa merasakan sakit yang berarti

Sebelum hidupnya usai dalam beberapa detak jantung lagi--
Terdengarlah bisikan yang lembut dari kedua telinga pucatnya:
"Bersukacitalah! Bersukacitalah! Oh, Hawari, Sang Pembebas!
Bagimu Sang Puan, yang mana dia akan dicintai Yang Satu."

Benarlah doa ibunya: kala hujan menyerbu daerah sekitar gua
Di depan mulut gua, seorang musafir tua mencari perlindungan
Begitu masuk, terkejutlah ia dengan aroma yang menyengat
Dan suara bayi yang menggemaskan. Menatap penasaran
Dengan kasihan dipungutnya ia sebagai anak sendiri
Dan dikuburlah jasad busuk ibunya di bawah gua tua
Ditimanglah sang bayi di antara dua kepalan tangannya
Pada sang bayi dinyanyikanlah sebuah lullabi penghibur:

"Datang, datanglah menuju pelukanku, anak kecil
Mengikuti jerjak anggur, pastura, juga kebun tua
Menuju sirkus yang lebih baik dari seisi bentala."

"Genggam tanganku, bersihkan pakaianmu dari kotoran
Hus, jangan menangis, 'kan kuterangi semua jalannya
Datang, datanglah menuju pelukanku, anak kecil."

"Janganlah berbalik ke belakang wana, sebelum kujelaskan
Siapa diriku. Tak perlulah tersengguk dan menelangsa
'Kan kutuntun kau menjelajah kegelapan dalam bentala."

"Berehatlah sejenak, sebelum kau nantinya kutahbiskan
Dari derita dan luka. Menuju jantung wana kita berdua
Datang, datanglah menuju pelukanku, anak kecil."

"Berhati-hatilah berjalan menyusuri wana dan terang bulan
Tetap di sampingku, dan kuajarkan padamu selaksa cerita
Tentang siren, peri-wana, dan kekejaman manusia bentala."

"Malam legam 'kan menguapkan bayang pengorbanan
Sebelum sempat kaukecapi manis-pahitnya amarta
Datang, datanglah menuju pelukanku, anak kecil
Menuju sirkus yang lebih baik dari seisi bentala."

Musafir tua itu, Astennu, membawanya pulang ke Kota Lama
Tempatnya mengais nafkah dan melepas segala penat
Walau ia dicap sebagai perjaka--aib yang memalukan
Di kota tempat tinggalnya, sarang semua kekolotan
Dinamakannya anak angkatnya Sarafina, Yang Berapi

Waktu berlalu, dan ia tumbuh menjadi wanita yang menawan
Menyendiri, tak seperti gadis lain yang menghadiri perjamuan
Di kamarnya, merenungi desa kecilnya dalam netra kepolosan
Sangatlah kuat hasratnya untuk membaca buku-buku berdebu
Yang diperoleh Astennu dari hasil perniagaan dan warisannya

Di masa ketika kebebasan dan ilmu tidak lagi dijunjung tinggi
Jadilah ia merenungi alasannya berjam-jam dan berhari-hari:
Mengapa, dan kenapa dirinya mesti hadir di atas mayapada
Apakah ia muncul dari ketiadaan, atau dari suatu penciptaan

Sering ia melamun di depan jendela, memandang Kota Lama
Melihat barisan gadis yang membawa sajen ke Kuil Dewa--
Tempat pemujaan dewa-dewa di belakang kastel penguasa
Sebelum mereka melayani semua suami mereka di naungan
Adatlah yang mengikat mereka menjadi satu untuk tunduk
Bahwa derajat wanita di sini cukup sampai di ranjang lelaki
Atau menjadi selir Adipati Kota dan menghangatkan kasurnya
Sementara para lelaki sibuk mabuk-mabukan dalam perjamuan

Dalam mindanya seringkali ada satu pertanyaan yang bergolak:
"Jikalau kau memang ada, Dewa, mengapa ini kaubiarkan?"
Tak ada jawaban. Meski Astennu t'lah mewartakan padanya
Bahwa ia hanya bisa bertemu Yang Satu setelah meninggal

Di akhir musim hujan, mengenakan pakaian rapi, ia keluar
Menilik pandai-besi, pedagang parfum, dan Balai Perjamuan
Tak disangkanya beberapa pria memanggilnya dari lorong desa
"Hai, cantik," itulah kata mereka yang memegang sebotol tuak
Belum beberapa detik dan mereka telah menghadang jalannya
Salah satu dari mereka--yang terdepan--menyentuhkan jarinya
Menuju pinggulnya. Sontak ditamparnya pipi pria tersebut--

Bak! Bogem mentah mengarah langsung ke perut Sarafina
Nyaris linglung, ia mendengar satu debakan yang keras
Namun dirinya tak merasakan sakit. Terbukalah matanya
Dan melihat seorang pria yang berdiri membelakanginya

Dua kali, tiga kali, dan empat kali pria itu menerima hantaman
Sebelum mereka puas dan meninggalkannya dengan luka lebam
Terperangah, dipapahnya pria itu ke bawah pohon di ujung lorong
Saling terduduk dan menunduk, Sarafina menanyakan alasannya

"Hati nuraniku dan akal sehat," jawabnya menahan perih dan pedih
Haru biru berembus, dan Sarafina tak sengaja menitikkan tirta netra
Senyum dan terima kasih ia hadiahkan untuk Kaira, sang pemuda
Selagi selaksa kupu-kupu imajiner menari indah di dalam perutnya

Hari-hari berlalu, dan mereka semakin dekat dalam raga dan atma
Berceritalah Kaira bahwa dia adalah seorang pembantu pendeta suci
Yatim piatu dan diasuh pamannya, mencari nafkah di pandai besi
Dengan dua saudara yang sering menghinanya hingga muak 

Sekali Sarafina bertanya, "Apa kau percaya akan dewa-dewa?"
Jawab Kaira, "Walau aku tak seyakin para pemuka kuil, ya."
"Apa menurutmu hal yang kita lakukan ini benar?" gumamnya.
Pungkas Kaira, "Entahlah, kebenaran tak selalu mutlak dan sepihak."

Di awal musim kemarau tiada anjangsana dari Kaira. Entah mengapa
Menunggulah ia di bawah pohon sampai datang satu rombongan
Dipanggilah ayah angkatnya, selagi ia memantau tandu keemasan
"Lihatlah, sebuah kehormatan dari Sang Adipati!" ujarnya bergembira

"Yang Mulia Naji sudah datang!" kata sang utusan membuka tandu
Terkejutlah Sarafina kala tatapnya membentur wajah pria di baliknya--
Ialah pria pemabuk yang berani menggodanya di ujung lorong desa!
Air muka Sarafina mengeruh, dan darahnya naik ke dahi. Lidahnya kelu

Ucap utusan, "Kupersembahkan, anak Sang Adipati, Naji Aeternum!"
Sang pangeran menengadahkan dagunya, menatap tajam Sarafina
Selagi Astennu dan putrinya membungkukkan badan, ia tersenyum
"Apakah yang membuat Yang Mulia datang kemari?" Astennu bertanya

"Akan kusampaikan sekali: aku hendak meminang putri Anda!" ujarnya
Jantung Sarafina sekali ini berhenti berdetak. Mulut Astennu ternganga
"Dan aku menolak untuk menikahi pemabuk sepertimu!" balas Sarafina
Semua terperanjat. Tiada wanita yang berani menolak kecuali dirinya!

"'Fina!" bentak ayahnya yang malu di hadapan sang pangeran dan khalayak
"Maukah ayah menjual harga diriku untuk pria ini?" kata putrinya berontak
Naji mendengus, "Pilihannya dua: bersamaku atau menghadapi eksekusi."
Tambahnya lagi, "Pikirlah kembali sebelum kau menyesal dua kali."

"Wahai pangeran, apa yang telah dilakukan oleh putriku?" sergah Astennu
Naji meludah, "Tidakkah diceritakannnya ketika ia berani menamparku--
Saat menyapanya? Dihadiakannya sebuah luka lebam," tunjuknya di pipi
"Apa dia tak sadar bahwa itu sebuah penghinaan berat?" tuduhnya lagi

"Jadi menggodaku adalah sebuah kehormatan bagimu?" kata Sarafina
"Jaga lidahmu, kalau tak mau berakhir di altar kuil," geram sang pangeran
Ditariklah oleh ayah angkatnya ke belakang pintu. Ia menahan murka
Diisyaratkannya pada sang pangeran untuk menunggu di halaman

Berbicaralah dia, "Nak, ketahuilah bahwa inilah yang teraman untukmu
Jika kau menolak, aku akan kehilangan satu-satunya anak perempuanku
Tidakkah kau mau mendapat tempat yang terhormat di mata semuanya?
Hentikanlah sikap labilmu itu, dan terimalah kenyataan yang sebenarnya.

0 Response to "Sajak Puisi fragmen pertama"

Post a Comment

Salam perkenalan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel